meritokrasi vs keberuntungan
sains tentang peran peluang dalam kesuksesan finansial seseorang
Pernahkah kita terbangun di pagi hari, membuka media sosial, dan langsung disambut oleh kutipan motivasi dari seorang tokoh sukses? Pesannya biasanya seragam: bangun jam empat pagi, kerja lebih keras dari siapapun, dan jangan pernah menyerah. Kita hidup dalam sebuah narasi besar bernama meritokrasi. Ini adalah keyakinan kuat bahwa kesuksesan finansial berbanding lurus dengan seberapa besar bakat dan keringat kita. Semakin pintar dan rajin kita bekerja, semakin tebal pula isi dompet kita. Kedengarannya sangat adil, bukan? Tapi, mari kita renungkan bersama sejenak. Jika kerja keras adalah satu-satunya tiket pasti menuju kekayaan, mengapa pekerja bangunan yang banting tulang dari subuh hingga petang tidak menduduki puncak daftar orang terkaya? Atau mengapa seorang ibu tunggal yang bekerja tiga sif demi membesarkan anaknya sering kali masih terjebak dalam kemiskinan? Ada sebuah teka-teki besar di sini yang sering kali luput dari pandangan kita.
Sebelum kita membongkar teka-teki tersebut, kita perlu paham mengapa otak kita sangat menyukai ide tentang meritokrasi ini. Secara psikologis, manusia mengidap apa yang disebut sebagai just-world fallacy. Kita memiliki kebutuhan mendalam untuk percaya bahwa dunia ini pada dasarnya adil. Kita ingin yakin bahwa orang rajin akan mendapat imbalan, dan orang malas akan tertinggal. Kepercayaan semacam ini memberi kita rasa aman dan kendali atas arah hidup kita. Namun yang menarik, jika kita menengok sejarah ke belakang, istilah meritokrasi sebenarnya diciptakan pada tahun 1958 oleh sosiolog Michael Young sebagai sebuah satir, bukan pujian. Melalui bukunya, ia memperingatkan bahwa masyarakat yang dinilai murni dari "prestasi" hanya akan melahirkan kelompok elite yang sombong dan kelompok bawah yang merasa pantas untuk miskin. Entah bagaimana ceritanya, kita justru mengubah peringatan itu menjadi semacam buku manual kesuksesan hidup. Tanpa sadar, kita mulai menutup mata pada satu variabel yang sangat tidak nyaman untuk dibahas. Sebuah variabel yang mengingatkan bahwa kita tidak sepenuhnya memegang kemudi kehidupan.
Mari kita bawa diskusi ini ke ranah matematika dan sains yang sedikit lebih konkret. Ada sebuah paradoks yang selama bertahun-tahun membuat dahi para ilmuwan berkerut. Kita tahu dari biologi dan psikologi bahwa sifat manusia seperti kecerdasan, bakat, dan ketekunan itu terdistribusi secara normal. Artinya, jika dibuat grafik, bentuknya menyerupai lonceng atau bell curve. Kebanyakan dari kita berada di tengah-tengah. Sangat sedikit yang kemampuan kognitifnya sangat rendah, dan sangat sedikit pula yang ber-IQ jenius luar biasa. Namun, distribusi kekayaan sama sekali tidak berbentuk lonceng. Kekayaan selalu mengikuti aturan yang mirip dengan Pareto principle, di mana sebagian kecil populasi menguasai hampir seluruh kekayaan dunia. Jika bakat dan fisik manusia rata-rata mirip, mengapa hasil finansialnya bisa sangat jomplang? Apakah para miliarder itu memiliki kapasitas otak seratus ribu kali lebih besar atau bekerja seratus ribu kali lebih keras daripada kita? Logika sains mengatakan hal itu mustahil secara biologis. Lantas, apa elemen rahasia yang melipatgandakan hasil kerja keras segelintir orang ini ke tingkat yang absurd?
Jawabannya akhirnya berhasil dibuktikan melalui sebuah simulasi komputer yang brilian. Pada tahun 2018, sekelompok fisikawan dan ekonom dari Universitas Catania di Italia merilis sebuah studi yang akhirnya memenangkan penghargaan Ig Nobel. Mereka merancang sebuah dunia virtual yang diisi oleh banyak individu dengan tingkat bakat dan kepintaran yang bervariasi normal layaknya di dunia nyata. Sepanjang waktu simulasi berjalan, individu-individu ini secara acak dihantam oleh peristiwa beruntung (yang melipatgandakan kekayaan mereka) atau peristiwa sial (yang memotong kekayaan mereka). Hasil akhirnya sangat mengejutkan para peneliti. Distribusi kekayaan di dalam simulasi persis menyerupai dunia nyata kita: sangat tidak merata. Tapi temuan paling epik dari studi ini adalah ini: orang-orang paling kaya di akhir simulasi bukanlah individu yang paling berbakat atau paling pintar. Mereka yang berada di puncak piramida ternyata adalah orang-orang dengan bakat rata-rata, namun memiliki tingkat keberuntungan yang luar biasa tinggi. Sains membuktikan bahwa peluang, momen yang tepat, tempat kita dilahirkan, dan perjumpaan acak di jalan, memiliki peran yang jauh lebih masif terhadap kesuksesan finansial daripada yang berani kita akui.
Lalu, saat mengetahui fakta hard science ini, apakah berarti kita harus berhenti berusaha dan pasrah saja pada nasib? Tentu saja tidak, teman-teman. Bakat dan etos kerja tetaplah esensial. Keduanya adalah modal dasar yang membuat kita siap menangkap peluang saat ia lewat. Bayangkan kerja keras kita sebagai perahu layar yang kokoh, dan keberuntungan sebagai anginnya. Sehebat apapun perahu yang kita bangun, ia tidak akan melaju pesat tanpa adanya hembusan angin. Namun, sekuat apapun angin bertiup, kita akan mudah tenggelam jika kita tidak punya perahu yang kuat. Memahami sains tentang keberuntungan tidak seharusnya membuat kita menjadi pesimis. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk mengasah empati yang lebih dalam. Saat kita sedang berada di puncak kesuksesan, pemahaman ini mengajarkan kita untuk tetap membumi, tidak arogan, dan menyadari ada campur tangan semesta di sana. Dan saat kita melihat orang lain sedang berdarah-darah berjuang namun belum juga berhasil, kita tahu bahwa mereka tidak selalu malas atau kurang cerdas. Mungkin saja, mereka hanya belum berpapasan dengan angin yang tepat. Mari kita saling berbaik hati, karena di atas lautan kehidupan yang tak tertebak ini, kita semua sedang mencoba berlayar sebaik-baiknya.